RSM – the hospital.

… awal cerita ini adalah film “the terminal”, yang bercerita tentang kehidupan seseorang di bandara. bagaimana mencari uang, bagaimana tidur, dan bagaimana makan, dan jatuh cinta,di sebuah bandara. selengkapnya harus menonton film 2004 tersebut.

Sampai beberapa waktu yang lalu, saya beranggapan bahwa ICU(Intensive care unit) itu sesuatu yang menakutkan. Ada yang bilang, begitu masuk ruangan tersebut, peluang hidupnya hanya 60%. Dan ada yang pernah bilang, biaya di ICU adalah 10 juta/hari. Begitulah gambaran betapa menyeramkannya ruangan tersebut.

Kemudian saya terbayang program intensive untuk SPMB/SNMPTN/SBMPTN. Apakah program intensive tersebut “menyeramkan”? mestinya program intensive adalah jalur penyelamatan/jalur harapan, juga yang pasti memperbesar peluang. Tidak berarti yang ikut intensive peluang gagalnya 40%. Jika begitu bimbingan belajar yang berserakan dari sabang sampai merauke akan segera “berubah” menjadi perguruan tinggi pencetak gelar tanpa makna.

Ini kali kedua menghadapi ICU, sebelumnya hanya beberapa jam karena harus segera terbang kualanamu menuju husein sastra negara bandung. Kala itu ICU masih sangat menyeramkan, begitu mendengarnya kepanikanpun datang, rasa rasanya jika mengukur tensi saat itu mungkin sekitar 190. Juga berat badan terasa berkurang, jadi alternatif untuk mereka yang ingin diet, seringlah berkunjung ke ruang ICU.

Ini kali kedua, cerita the hospital pun dimulai. Kami tinggal di ruang tunggu ICU ini untuk beberapa hari. Dan sepertinya memulai kehidupan disini.

Tetanggayang pertama, sebut saja ibu Mega, dia menunggu ibunya yang baru saja selesai operasi. Awalnya, bu Mega membutuhkan charger nokia, karena melihat bu Mega sudah cukup tua, saya bukan saja meminjamkan charger. Melihat bu Mega yang duduk dan kesulitan berdiri, saya berdiri cepat dan pergi men-charger ke tempat dispenser. Karena dispenser tersebut satu-satunya tempat menemukan listrik di ruang tunggu tersebut.

Tetangga yang kedua adalah Mr. e, singkatan dari Mr. Elektronik, beliau ini cukup renpong. Saat Hp di tangan, tablet di charger, dan saat main tablet hp di charger. Sampai suatu waktu, saking bosannya menunggu charger selesai dan kami membutuhkan air panas dari dispenser, kamipun menghentikan dengan paksa. Saat Mr.E di toilet seseorang dari kami menggantinya dengan dispenser. Akhirnya Mr. E mencari solusi, membeli/membawa cok cabang. dan tentunya kamipun menompang pada orang yang kami paksa keluar dari zona dispenser.

Waktu besukpun tiba, menempati ruang ICU dalam sejam, akhirnya mengamati apa saja yang ada dalam ruangan tersebut. Dan ternyata anggapan selama ini sungguh berbeda, ICU tidak ada bedanya dengan program intensive, tidak ada yang berlebihan. Tentu disini lebih aman dari ruang biasa. Setelah selesai besuk, kembali ke “rumah” (ruang tunggu). Kami berbincang dengan Bu Mega, beliau cukup panik. Sampai sampai dia berniat membawa nenek (Ibu Bu Mega) ke rumah dan pasrah. Dia panik mendengar biaya, katanya 10 juta/hari, padahal beliau hanya mempunyai 20 juta. Dan sepertinya 20jt tersebut sudah tidak cukup. Untuk itulah dia sangat membutuhkan charger sebelumnya, agar dapat menghubungi sanak saudaranya. Kemudian kami menyuruh bu Mega ke kasir, untuk menanyakan biaya, bisa jadi 10jt itu untuk sampai hari ini, bukan /hari. Bu mega pun mulai tenang.

Ini yang selalu saya tekankan, orang-orang kesehatan harus mengerti psikologis, dan melihat dari perspektif pasien. Agar tidak menimbulkan kepanikan. Sama halnya ketika kami ke ICU, periksa bentar, tanpa keterangan apa apa, keluar pernyataan “ini harus segera ke ICU”.

Saya kemudian terbayang, misal saya jadi guru/dosen. Lalu ada murid bermasalah yang kebetulan anak dokter. Lalu saya bilang, tanpa penjelasan, anak anda harus pindah jurusan. Apakah dokter tersebut tidak panik???

Tiba saatnya kembali ke ruangan, berpisah dengan tetangga di ruang tunggu ICU. Ada sebuah telepon dari MS, abang rapi sedikitlah di rumah sakit, supaya perawatnya rajin dan baik merawat mama. hehe. dicoba nga ya?

Tetapi itu tampaknya sulit sekali, 24jam di rumah sakit, bahkan suatu ketika nyuci bajupun di rumah sakit. Dan berhubung sering jaga malam, pagi dan siang cenderung kebanyakan tidur, dan sesekali terbangun saat perawat control. Jangankan melihat sisi “rapi”, mungkin perawatnya berpikir, “nih anak tukang tidur ya, perasaan tiap saya kesini selalu tidur”. hehhehe 

Tetapi pada akhirnya perawatnya baik2 semua, mungkin karena sering kami gombali, eheheh salah. sering di gombali saudaraku. Kalau sampai aku yang gombal, mkn benar kata “seseorang”, yang keluar malah orasi soekarno, atau puisi ws rendra. ahahaha. ya sudahlah, saya nga ikut gombal, saya bantu membuat perawatnya tersenyum saja. atau memang pada dasarnya perawat disini baik baik. Jadi, (mungkin) masalah rumah sakit kita adalah masalah kebijakan. Rumah sakit tidak berani gaji dokter cukup, sehingga dokter kebanyakan “nyambi”, kerja di banyak rumah sakit, akibatnya hanya visit beberapa jam. Dan akhirnya pelayanan kurang. Tentu perawat yang stand by di rumah sakit menjadi korban kekesalan kel. pasien. Ini yang harus di benahi. Bagaimana caranya dokter penuh di satu rumah sakit.

Ada banyak hal menyangkut perbaikan rumah sakit kita, salah satunya tentang “bagaimana seseorang menjadi dokter?”. konon katanya, dibeberapa universitas, kursi fakultas kedokteran teegantung uang, artinya anda mampu bayar, anda dapat kursi FK. Semoga saja ini tidak benar. Yang kedua, bagaimana anak FK di kampus, tdk perlu saya jelaskan, karena juga kebetulan di kampusku
tidak ada FK. Tetapi katanya beda dengan anak-anak fakultas lain. Itu kenapa saya suka “lelucon” temanku, sebelum anda di periksa dokter, tanya dulu. Lulusan mana? Akreditasnya apa? bisa jadi pas ujian nyontek. jadi waspadalah sebelum di suntik . Mungkin akumulasi dari kebijakan rumah sakit, seleksi mahasiswa baru, dan kehidupan di FK lah yang melahirkan dokter “taman kanak-kanak” seperti pengalamanku dulu. Waktu itu, kami membawa ibu dari samosir menuju medan, sampai di medan pukul 9 pagi. Dan melapor ke dokter yang bersangkutan. Dokter tersebut berjanji akan visit sore hari, namun sampai malam hari dokter pun tak kunjung datang. Saat di telepon “beliau” berhalangan hadir karena hujan. Apa tidak ada alasan yg lebih logis? tidak datang karena hujan, itu macam alasan anak tk saja. soalnya, kalau anak sd tdk datang karena hujan, pasti di hukum guru. Dan ketika kami protes terhadap perlakuan dokter tk tersebut, rumah sakit menyuruh dokter umum, periksa bentar, lalu keluar pernyataan pindahkan ke ICU, itu pertama kali menuju ICU. Saya jadi curiga, jangan- jangan ada SOP nya, ketika kel.pasien protes, pindahkan saja ke ICU. 

Buat kawan-kawan anak FK, jngan marah ya… ini bukan sindiran, ini base on true story, ini atas nama cinta jugankok, semoga kelak kita punya rumah sakit yang benar, dan semoga kelak kamu menjadi dokter yang terbaik.

Oh ia, waktu masih di ICU, bu mega sering titip barang, saat dia lagi mandi atau lagi keluar. Begitupun sebaliknya. Dan saat masih di ICU, bu mega juga datang jenguk mama. Benar benar tetangga yang baik. dan beberapa hari yang lalu, masih bertemu. Syukurlah nenek juga sudah pindah ke ruangan.

Sbagai penutup, jadikanlah sekitar kita menjadi keluarga, juga jadikan keluarga menjadi sekitar kita.

Keluarga (sedarah) yang menjauh, jangankan menjenguk, sms pun tidak, belum tentu lebih keluarga dari bu Mega, penghuni ruang tunggu ICU.

kalau ada yang sakit, segeralah berobat.
kalau ada yang salah, segeralah dimaafkan.

Iklan