… teringat cerita dosen, siapakah CEO Garuda Indonesia? apakah seorang pilot atau pramugari? ternyata seorang penumpang, supaya mengerti kenyamanan penumpang, 

pasa waktu SPMB dulu, yang kemudian berganti nama menjadi SNMPTN, dan sekarang SBMPTN, pikiran masih begitu “pokos”nya berpikir bahwa akan kuliah di FK(Fakultas Kedokteran),lalu mendirika Rumah Sakit Maria (RSM) sampai-sampai sudah membuat logo rumah sakit tersebut. Begitulah tertulis di buku-buku persiapan SPMBku dulu. Namun apa daya, saat spmb tersebut banyak kesalahan2 kecil, seperti mambuat -1-(-1/2)=1/2. pasahal mendapatkan anggka -1 dan -1/2 itu sungguh perhitungan trigonometri yang panjang. banyak kesalahan seperti itu, dan akhirnya dalam spmb tersebut hanya lulus di pilihan kedua. Masih belum menyerah, saat itu berpikir meninggalkan I*B dan kuliah fk di swata. tetapi semunya batal karena satu pernyataan saudara “hebat kali kau, masa I*B kau tinggalkan?”. akhirnya kuliah di fk pun batal. saat itu belum menyerah pada pendirian rsm, berniat spmb di tahun berikutnya, sembari kuliah di jurusan matematika.

namun, rencana tersebut tidak jadi di eksekusi, kuliah satu semester di matematika membuka mata tentang panggilan hidup. motivasi saya masuk fk adalah gaji dokter yg tinggi, lalu mendirikan rsm. sy tdk punya motivasi menolong orang sakit atau meneliti obag-obatan. dan akhirnya memutuskan tdk ikut spmb lagi.

selepas lulus s1, masih ada ketertarikn akan dunia kesehatan. pilihan saat itu biomedical engineering, konon katanya mengurus kesehatan melalu pendekatan kedokteran, engineering, science, dan teknologi. itupun kembali batal karena masalah sepele, sama sepelenya dengan -1-(-1/2) di spmb sebelumnya.

sungguh, bukan batu besar yang membuat kita terjatuh, tetapj kerikil kecil. waspadalah, waspadalah…

namun bukan itu akhir dari cerita ini, saya tidak berniat menggurui, berniat jadi gurupun tidak, cukup sudah, saya hanya ingin bagian dari anda, keluarga anda. ini hanya cerita di warung kopi. dan ketikapun aku mati nanti, tidak perlu di ingat namaku, apalagi di abadikan jadi nama rumah sakit, makamkupun tak perlu ada. biarkan saja seperti org biasa, mati masuk simin, lalu di okkal holinya seperti org batak biasa, lalu makamkupun hanya nompang. sesungguhnya begitulah. kita cukup manusia biasa. bukan putus asa, atau tidak bercita-cita, tetapi saya lbh senang cita-cita bersma. contoh, saya dan pembaca bercita-cita Indonesia menjadi negara maju, ya sudah mari kita ujudkan. mari kita lupakan cita-cita ku. 

kembali pada topik utama, jadi org yg cocok jadi direktur rumah sakit adalah pasien, atau yg sering menjaga pasien. kenapa? supaya mengerti pelayanan, mengerti sudut pandang pasien. begitulah menurutku.

jadi seumpamanya aku dan kamu membuka rumah sakit, ingat itu bukan rumah sakitku, juga bukan rumah sakitmu, tapi rumah sakit kita. dan direktur utamanya, kita pilihkan bukan dokter, bukan perawat, bukan juga pebisnis, tetapi pasien, atau org yg sering jaga pasien.

begitulah cerita kedua ku, tentang dunia keehatan.

jangan berpikir ini sebuah kesombongan, apalagi sindiran. ini hanya sebuah surat cinta, mungkin kelak Indonesia punya rumah sakit yg bisa di banggakan 

salam manis dari rsm_ ( rumah sakig martha….)

Iklan