… catatan pribadi.

dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, hari-hariku banyak di rumah sakit, rumah sakit di medan, rumah sakit di bandung, rumah sakit di jakarta, rumah sakit di samosir. ada sekian banyak yg ingin ku ceritakan, meskipun belum tentu aku mampu menceritakan. terimalah cerita ini sebagai suatu bentuk “keinginan” memperbaiki, dan bukan suatu kritik, atau merusak nama baik. ini hanya sebuah tanda cinta, bahwa kelak kita akan menjadi negara maju dalam bidang kesehatan. mungkin 2045 atau mungkin 100 tahun lagi.

bagian pertama.
hal yg saya soroti adalah bagaimana rumah sakit (manajemen, dokter, perawat, pegawai) sadar betul pentingnya aspek psikologis dalam kesehatan. contoh, memberikan keterangan kepada pasien. untuk org-org kesehatan, istilah operasi pastinya hal yg biasa, dan itu kehidupan sehari-hari buat mereka. akan tetapi berbeda utk pihak pasien, utk bayak org, istilah operasi merupakan hal yg menyeramkan. untuk itu ketika ada situasi harus operasi, pertimbangan psikologis adalah keharusan. juga dengan isrilah kanker, tumor, dan segala macamnya, istilah itu berebeda dalam perspektif dokter dan dalam perspektif pasien/kel pasien.

dan sebaiknya, pihak rumah sakit berpikir bukan sebagai perspektif org kesehatan, namun perspektif pasien. juga sebaliknya, kel pasien yg datang ke rumah sakit berpikir dgn perspektif rumah sakit, dimana ada banyak pasien, dgn keterbatasan perawat, keterbatasan dokter. hal ini penting, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.

bagian dua, aspek propesionalisme.
suatu waktu, saya pernah membaca tentang tulisan singkat tentang perbedaan dokter dan montir. dalam tulisan itu, sedikit membawa tawa. sang montir berkata pada dokter, “kita sama, sama sama mengganti onderdil.” dan dgn senyum dokter bilang “ya… kita sama”. “lalu knapa gaji kita beda?” protes montir. dan dokterpun berkata “kalo kamu bisa ganti onderdil mobil yg hidup, gaji kita akan sama”.. montirpun terdiam.

yap, dalam dunia kesehatan manusia, berbeda dgn kesehatan mesin. dimana, kita tidak bisa control z, tdk bisa memutar mundur. jadi org-org kesehatan harus yg profesional, berdedikasi. dan itu harus dimulai dari kampus yg berkualitas, recruitment yg benar, dan manajemen rs yg benar.

bagian ketiga. masalah manajemen.
rata rata satu dokter indonesia bekerja di berapa rumah sakit/klinik? tentu pertanyaan ini bukan menyalahkan dokter, karena pertama, kita masih kekurangan banyak dokter. kedua hal ini bagian dari kebijakan rumah sakit. ada cerita dari negara tetangg (malasya), konon katanya rumah sakit berani membayar tinggi satu dokter, dengan kesepakatan dokter tersebut bekerja di satu rumah sakit saja. dan outpunya, pelayanan lebih maksimal.

Iklan