the secret bodyguard

.. beberapa bulan lalu aku di tawari Angel untuk menjadi pengajar Privat Fis-Mat temannya- bernama putri. putri bukan saja memiliki orang tua yang kaya, tapi juga punya tabungan banyak dari honornya menyanyi. memang putri hanya artis daerah, tapi di bulan liburan sekolah putri mendapat banyak job. karena saat liburan adalah musim kawin (baca :nikah) buat orang batak, hal ini

di pilih supaya keluarga dari perantawan bisa pulang.

jujur saja, awalnya aku tidak berpikir apapun tentang putri, apakah dia akhirnya bisa mengerti yang ku ajarkan?, kecuali satu hal “money”. tentu saja honor mengajar privat pakai faktor pengali, misal standarnya 25.000. ketika mengajar keluarga di bawah rata rata kalikan dengan satu, mengajar kelas menengah kalikan dengan 2, mengajar di atas rata rata kalikan dengan 3, dan mengajar pencilan kalikan dengan 4, untuk artis kalikan dengan 5. system faktor pengali ini bukan tanpa alasan, alasan pertama : subsidi silang. alasan kedua; kesulitan mengajar sebanding dengan kekayaan orang tua (walau tidak selalu).

alasan pertama, subsidi silang.
misal rumah pengajar 15 km dari rumah siswa, dengan uang 25 000, (kecuali pakai motor) duit tersebut habis di ongkos. tentu tidak cukup untuk makan malam. jadi, perlu subsidi silang. dan kebijakan seperti ini juga di terapka universitas ketika pemerintah membuat PTN menjadi BHMN atau BHP, yang mana dampaknya PTN harus mencari dana operasional sendiri

alasan kedua, kesulitan mengajar sebanding dengan kekayaan orang tua. (walau tidak selalu).
ada dua hal yang di soroti di sini. kemauan bekerja keras anak ada hubungannya dengan kekayaan orang tua, yang kedua tentu orang tua di bawah rata rata tdk akan menuntut lebih, sementara orang tua di atas rata rata wajar menuntut lebih. lagipula harga sebanding kualitas kan?. kalau ini tampak kejam, belajar sajah di sekolah. berpikir mauk ke dunia privat di situlah kekejaman di mulai. toh, ketika privat prosesnya sudah melenceng dari pendidikan, murid hanya senang satu hal “cara cepat”. padahal, cara cepat itu sendiri sudah termasuk mengingkari bernalar. so, privat memang kejam. pengajar privat yg mengajak bernalar akan segera kehilangan pekerjaannya.

tapi, untunglah hukum newton di film “Cin[T]a”, yg berbunyi “kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran” karya Sudjiwotedjo -presiden Indonsia loyers club, tdk terjadi pada putri

putri tanpaknya perlahan menikmati mekanika dan juga penampakan cacing dalam integral. mungkin saja putri tdk beruntung mendapat guru yang baik selama ini atau terlalu sibuk dengan panggung hingga nilai raport tampak berantakan. putri penah berniat mencuci raportnya, tentu putri mudah saja dengan uang yang dia miliki. niat putri mencuci raport muncul ketika perubahan sistem SNMPTN2013,- yg mana milihat nilai raport tanpa ujian tulis.
“ka, gmn kalau kita cuci aja raportku?”
“rusak dong”
“bikan cuci begitu ka?”
“itu sih terserah kamu put, tapi coba bayangkan “putri artis desa mencuci raport” menjadi headline di media. mau taro mana muka mu put?
“enak aja ka, artis desa,, kota tau…. lihat aja nanti aku masuk Indonesia Idol…” canda putri sambil kesal. putri memang aneh, lebih manis saat kesal.
“makanya put, publick pigure itu harus teladan, kan kasian fans kamu seperti aku, hehe”
“ellah, sok fans… mana ada fans tokok2 kepala idolanya”
“saat nokok kepala, brarti lagi nga jadi fans aja brarti.. hahah”
“udah dong ka, bantu keputusan dong… bukan buat bingung”
“nah loh… ini kan hidup kamu, masa saya yang putuskan. be your self !!!)
“ya udah ka, tapi kenapa sih ka, system penerimaan mahasiswa baru berubah terus, kasihan kan persiapan selama ini”
“itu sih salah sendiri, suruh siapa senang “cara cepat”. kalau kamu belajar benar2 harusnya siap untuk smua kondisi kan?”
“kaka ahhh, nga seru,, nyalahin putri mulu… salahin noh guruku, tulis soal di papan tulis lalu ke kantin,, gmn blajar kayak begono…” jawab putri dengan kesal nan manis
“mm…”
“pokoknya aku harus lulus PTN ka, malu nanti sama amanda..”
“ha? siapa amanda kok tergantung amanda?”
“ia ka, amanda itu saingan ku di sekolah, udah dia punya pacar, ntar lulus PTN lagi… nah aku, nga punya pacar, nga lulus PTN, kan 2-0 pa….!”
“jadi kamu mau punya pacar atau mau lulus PTN??”
“dua duanya ka, heheheh”
“gmn kalau aku aja jadi pacarmu, kita buat kontrak kayak di film film”
“ga mau ah, nanti pacarannya bahas gerak jatuh bebas,,,”
“trus mau blajar reproduksi?”
“ah, pikiran kaka jorokkkkkk”
“loh, itu bisa di atur di kontrak, selama pacaran nga boleh bahas pelajaran..”
“mmm, tapi putri pengen di jemput ke sekolah naik motor gede ka…, motor kaka kan jelek”
“kita bli aja motor baru, atas nama kamu deh,,, kontrak selesai, motor kembali ke pemilik, DEAL”
“deal”
“tpi, kamu kan kasih banyak syarat, dari aku juga ada syaratnya..”
“pertama, setiap pacaran kamu harus bayar 100.000/per hari”
“gampang,,,,,”
“kedua, hubungan kita tidak boleh di ketahui orang lain, apalagi media”
“lohhh, gmn pacarran begitu…”
“mau ato nga?”
“tadi kan harus ngejemput, sekarang nga boleh di ketahui orang,,, gmn sih?”
“aku tetap jemput, pakai helm, nah temanmu kan nga lihat wajar,,, tpi bisa lihat kamu di jemput.., DEAL?”
“deal”

The secret bodyguard 2

Perlahan hubunganku dengan putri memang lebih dari hubungan guru dan siswa, melihat perubahannya membuatku lupa kondisi pendidikan bangsa ini. Terkadang aku menyesali terjun ke dunia pendidikan, tapi melihat putri mulai kecanduan belajar memberiku sedikit semangat. Terkadang aku menerima telepon putri jam 12 malam untuk sekedar pemberitahuan bahwa PRnya sudah selesai. Mkn sajah putri kurang perhatian di rumah, tapi dia tidak pernah mengeluh. Dia bisa menciptakan perhatian dari sekelilingnya, itu alasanku menyebutnya putri. Seperti princess yang seolah olah kedewasaannya satu tingkat di atas usia normal. Ya dia tidak boleh mengeluh.

Aku menawari putri kontrak tersebut, tentu saja bukan mengumpulkan uang untuk anak jalanan seperti di film2. Kontrak berjalan sampai putri  menyadari “Tidak menggampangkan sesuatu”. 100.000/hari sengaja aku buat di satu rekening berbeda dan nantinya akan ku kembalikan. Sebagai the secret bodyguard tentu aku bertanggung jawab untuk keamanan putri, termasuk keuangan dia di masa depan. Kemana uang itu nantinya, itu hak putri. Dan masalah siswa-siswiku yang anak jalanan biarkan saja bekerja sambil belajar, toh aku bukan Negara yang menjamin pakir miskin dan anak anak terlantar kan? Dan tidak segala hal menjadi urusanku, aku terlahir untuk apa yang bisa ku beri atau sedikit di atas kemampuanku, tentu itu tidak berarti bertanggung jawab akan segala hal.

Suatu ketika, sebagai pacar-kontrak yang baik, putri mengikutiku ke sebuah rumah belajar untuk anak jalanan tanpa sepengetahuanku. Ke esokan harinya Dia mengejudkan ku kembali, dia mendaftar jadi pengajar muda di rumah belajar tersebut. Dan ketika itu, putri masuk terlalu jauh ke dunia sosial. Masalah keuangan di rumah belajar menyentuhnya, dan menyadari “uang” itu bukan masalah gampang.

Selain masih belajar di rumahnya, kamipun sering pergi bersama ke rumah belajar tersebut. Entahlah, itu sebuah pacaran atau kegiatan sosial. Dan itu mengurangi jam putri naik panggung, dan tentu pendapatannya menipis.

suatu ketika, bencana alam buat rumah belajar benar benar terjadi. Pemilik tanah tidak lagi mengijinkan tempat kami belajar, dan akan segera menjual tanah tersebut. Dan rumah belajar tersebut hanya punya dua pilihan, pertama membeli tanah, kedua menyewa rumah 300 meter dari rumah belajar tersebut. Dalam keputus asaan, putri bertanya satu hal, “apakah memutus kontrak les privat atau kontrak pacaran?”

mengahapi putri, aku sama sekali tidak merubahnya menjadi apapun. Salah sendiri pernah mengikutiku keduani sosial. Mengurusi keuangan putri, itupun bukan keinginanku, satu satunya pesan orang tuanya saat pertama kali mengajar, “tolong ajari putri menghargai uang, mumpung masih ada” masih ingat di kepalaku. “be your self” selalu ku ucapkan untuk putri, dan aku selau berharap kelak dia benar2 jadi putri.

Saat menghadapi pertanyaan konyol putri, terbesit di pikiranku mengembalikan rekening kontrak kami. Tapi aku yakin, saat memberinya rekening tersebut, tanpa pikir panjang putri akan menyerahkan isi rekening ke rumah belajar tersebut. Dan itu berarti putri blum menyadari makna sebuah “uang”. Dia belum berubah menggampangkan sesuatu, sekalipun ada perubahan dalam hal yang lain.

Akhirnya aku menjawab putri dengan normative, “itu sih terserah putri aja”. Putri  pun kembali keluarkan sisi manisnya dengan kesal.

The secret bodyguard 3

…beberapa bulan kemudian, putri memberiku sebuah amplop. saat itu aku sedang berpikir apakah ini berisi amplop “kontrak”, atau surat “pemecatan” sebagai guru privat.

“apa ini put?”

“buka aja bang!!!”

sambil membuka amplop, pikiran ku tertuju kata “bang” dalam kalimat putri, itu berarti bukan “surat kontrat”, atau jangan jangan itu panggilan terakhir putri. akhirnya amplot terbuka dengan sebuah sertivikat tanah rumah belajar.

“uang dari mana put, kamu kan udah jarang manggung?”

“aku kumpulin lah,”

“bagaimana, sementara kita sering bareng kok!!”

“i have connection….”

saat pikiranku berkutat di pilihan “berhenti sebagai gurunya” atau berhenti sebagai “pacarnya”, dia mengejutkanku kembali. putri benar, dia memiliki banyak teman artis dan di media.

putri mengirim sebuah cerita ke media tentang rumah belajar, dan dalam sebulan uang sudah terkumpul bahkan lebih dari yang di butuhan ruma belajar. dengan prestasi putri di rumah belajar akhirnya dia mendapat beasiswa di berbagai PTN. tinggal menyelesaikan UN dan bebas memilih PTN pilihannya…

dan akhirnya, kedudukan putri dan amanda berakhir 1-1. putri lulus PTN dan amanda punya pacar.

dan the secret bodyguard … aku menyukai semangat putri dalam belajar, aku menyukai totalitas putri mengerjakan sesuatu, aku kagum dengan kemampuan putri menghubungkan donatur dengan yang membutuhkan, tapi untuk masalah hati tentu saja masih tetap bersama Angel.

pagi ini stock kopi di tasku kebetulan habis. sorry kalo tulisannya pendek, hahahha

Iklan