my princess 

setelah bangun pagi, seperti biasa aku menuju tas kesayanganku. tas itu ku beli beberapa tahun lalu seharga Rp 450.000,-, sebuah tas labtop dengan punya banyak kantong. setiap bangun biasanya tanganku meraba tiga ruang dari banyak ruang yang tersedia di laptop tersebut, dan ada tiga barang yg paling sering ku gunakan sebangun pagi. lap top, modem, dan 1kopi. kemudia menuju sebuah mej

a dan masih di temani 3 barang tadi. aku tiba tiba menyadari sedang merindukan seseorang, seseorang yg mampir di ruang mimpiku tadi malam. she is my princess.

aku sedikit terlarut dengan ruang waktu, seakan aku kembali kemasa lampau keseluruh tempat yang pernah ku singgahi bersama sang putri. terkadang aku bingung juga melihatnya, terkadang dia terlihat sangat kuat, pintar, dan tentu sedikit nakal. tapi anehnya, dia sering sekali sakit.

ada dua tempat yang sering kami kunjungi berdua, Klinik bumi ganesha, dan satu lagi ruang praktek dokter di sudut kota bandung. kalau penyakit putri terlihat ringan, kami biasanya menuju klinik bumi ganesha, alasannya tentu saja bukan masalah pelayanan tapi karena murah dan juga putri memiliki asusansi mahasiswa disana. dan kalau putri terlihat parah, kami menuju praktek dokter putri. dokter itu memang sepertinya terlahir untuk putri, sekali penanganan biasanya langsung sembuh. tapi emang lumayan mahal. jadi dokter putri ini bekerja hanya ketika kondisi putri darurat.

komunikasiku dengan putri mirip seperti protokol dalam kerajaan, -baku, simple, dan jelas.
“hallo, sibuk nga”
“ya, kenapa?”
“ya udah, ga papa”

“hallo, sibuk nga”
“ga, kenapa?”
“bisa antar ke dokter, aku sakit”

dua komunikasi itu paling sering kami gunakan. dan karena kalau aku sedang sibuk, putri selalu bilang “ya udah nga papa”. sampai akhirnya sesibuk apapun aku, aku selalu jawab “ga, kenapa?”. dan memang hampir selalu, setiap mendapat SMSnya selalu menuju dokter.

suatu ketika, aku sedang belajar untuk suatu ujian yang menurutku menankutkan “ajabar linear”, sekalipun memang agak sulit, matakuliah itu menakutkan karena dosen ku “jauh lebih mencintai matematika dari kemanusiaan”, heheh. tiba2 lagu “lihat sekitar kita -krakatau band” bernyanyi di sampingku dari sebuah Handpone. sms itu datang atas nama putri, kembali menanyakan “hallo, sibuk nga”, aku tak menyempatkan diri untuk membalas smsnya, putri sedang sakit sekarang, pikirku dan langsung menuju parkir.

dalam perjalanan menuju istana “putri”, aku berhenti di sebuah lampu merah di bawah jembatan layang surapati- yang konon katanya “karya anak negri”. sambil menunggu lampu hijau menyala, aku memeriksan hp ku yg ternyata mendapat sms kedua dengan isi yang sama. lantas kau membalas, aku udah di dago, sebentar lagi sampai. ok?

sesampaiku di istananya, -yang kebetulan putri tidur di lantai dua, aku di sambut sebuah senyuman dari gadis yg kuat, sehat, dan sedikit nakalnya. 

“kamu nga klihat sakit put!!”
“siapa bilang aku sakit?”
“yahhhhhhhh, kirain sakit. aku sampai nga belajar untuk ujian besok put”
“yeee, siapa suruh….”
“tapi, kan biasanya tiap sms kamu pasti sa..”
“udah masuk dulu sinih…”

kamipun menaiki tangga demi tangga menuju kamar putri.
“tadi kamu mau bilang pasti apa?”
“pasti sakit,”
“enak aja,”
“kalo gitu masak dulu gihh”

bisa ku bilang enak, anda tau kenapa? karena putri masak indomie telur. bumbunya udah ada, tentu pasti enak, apalagi saat itu masih mahasiswa. untuk membayar indomie telur tersebut, aku menanyakan ada apa sms tadi…

“knapa tadi sms?”
“pengen ketemu aja, nga boleh” dengan tampang polos pada hal penuh kepentingan
“nga biasanya ajah…”
“tadi mau ajak belanja, tapi kalo kamu mau ujian nga jadilah…”
“ya udah nga papa, ayok ajahh”

putri memang selalu begitu, cocok seperti putri kerajaan pandai berpolitik, dengan satu senyum dapat memastikan semua kesepakatan beres.

waktu itu tepat di hujan november, sesampai di pasar belanja hujan turun perlahan di pasar tradisional tersebut. pasar seakan jadi milik berdua berlari sesekali melompat kubangan air. tentu saja aku tak berpegangan tangan dengan putri, selain bisa jadi skandal istana, karena kedua tanganku penuh belajaaan.

setelah menunggu hujan sebentar, hujan akhirnya berhenti untuk kepulangan putri ke istana. namun apa mau dikata, istan tidak punya pawang hujan saat itu, baru saja berangkat dari pasar, hujan kembali turun. itu menjadi ciri khas kota bandung, hujan, berhenti sebentar, kemudian hujan lagi, seakan mau bilang #seperti cinta yang tiada henti.

sebenarnya di jok sepeda motorku ada mantel merah. tapi saya dan putri memutuskan tidak menggunakannya, -walau khawatir putri akan sakit. rasanya perlu bermain hujan menjadi kenangan terakhir sebum putri meninggalkan bandung. tentu saja aku tak merasakan sedikitpun dinginnya hujan bandung, berada 5 meter saja dari putri terasa hangat, apalagi bersama duduk di jog kecil motorku.

sialnya bandung itu terasa sempit, bukan saja efek relativitas cinta atau relativitas einstein, namun 30 menit sudah sampai dari ujung hingga ujung. bandung benar benar sempit… sesampai di istana dengan baju basah kuyup, mataku tertuju pada putri dengan penuh khawatir apakah “anak ini akan sakit atau tidak”.

dengan memberikan sepasang baju training warna waninya, putri menyuruhku mandi. kemudian putri menyiapkan kopi terakhir bersama putri.

My princess 2.

Kopiku perlahan habis, ingin rasanya segelas kopi lagi untuk melanjutkan cerita ini. Sekalipun rasanya sedikit hambar di banding kopi terakhir bersama putri. Tentu saja kopinya sama, sama sama kopi asal samosir yang pahit tapi menyegarkan. Namun, akupun teringat nasihat putri untuk membatasi minum kopi. Sesekali aku ragu juga atas nasehatnya, masa orang sakit sakitan menasehatiku masalah kesehatan? Tapi karena hari ini dia benar benar “ngangenin” jadilah kuputuskan membatasi kopi ini.

 

Teringat kembali mata kuliah “aljabar linear” itu berakhir nilai E. Saya sama sekali tidak menyalahkan putri, karena tanpa nilai “E” di matematika terasa hambar. Lagipula coba anda ingat guru atau dosen anda, yang paling menyeramkan itu bagian penting dari hidup anda. Dan lagipula akhirya aku belajar 2 semester untuk aljabar itu, walau nilai setelah di ulang masih aja “C”, tapi saya bisa merasakan aljabar linear itu. Tentu untuk ukuran anak matematika, saya masih tergolong lambat menghitung nilai eigen, vector eigen, atau transformasi. Namun, kasusnya bukan menghitung, dalam alam semesta apa itu nilai eigen? Apa itu vector eigen? Itulah kenikmatannya. Untuk yg tergolong awam dalam “aljabar linear”, lihat saja contoh kasus penyebaran virus, kenapa yg terinfiksi di isolasi? Karena itulah nilai eigennya. Untuk kasus korupsi, kenapa pemberantasan tdk pernah berhenti, karena itu bukan nilai eigen. Nilai eigen ada di calon koruptor (rekrutmen), semasi itu belum di benahi, korupsi tidak pernah selesai. Atau kasus perokok dan peminum, setinggi apapun pajak perokok dan peminum tetap saja minum, karena itu bukan nilai eigennya, nilai eigennya di calon perokok dan calon peminum. Membatasi calon ini adalah jalan merendam kasusnya. Itulah nilai egen, tentu dalam persamaan matematika di simbolkan.  Putri kebetulan jurusan farmasi. Suatu ketika aku kembali ke istana untuk belajar meredam penyakit seperti di kasus nilai eigen di atas. Tapi anda tau, sama sekali tidak nyambung di pikirkan secara matematika dan di pikirkan secara farmasi. Dalam farmasi menemukan obat tentu penting sekali, tapi dalam matematika jauh lebih penting meredam penyakitnya, sekalipun ada banyak yg mati. Toh itu hanya hitung-hitungan pemisalan. Dan akhirnya saya pulang dengan satu buku farmasi, untuk di baca.

 

Tapi coba kembali ke tulisan 1, melihat putri basah, dan berduaan di kamarnya, masa sih nga melakukan apa apa? Apa anda berpikir saya nga normal? Masa aku khawatir dia sakit ato nga, dimana basah air hujan tentu ada efek tembus pandang?

 

Beberapa minggu kemudian-tepat momen natal seperti sekarang, walau tanpa salju, aku mengajak putri ke istana sebelah. Mengunjugi rumah someone. Motivasinya jelas, ingin menyambut tahun baru nanti dengan pacar baru. Sebut saja namanya “dina”. Dina  dan putri teman sekelas di farmasi. Jadi, strateginya, putri hendak pinjam sebuah buku, dan aku adalah supir putri.

 

Dalam perjalanan, aku masih ingat dialog bersama putri,

“udalah da, nga akan mau nya dia sama mu da”

“masa sih, kau belum tau aja uda mu ini, heheh”  (uda : panggilan kepada adiknya bapak, dalam budaya batak)

 

Saat putri  bilang dina tidak akan mau, ekspektasiku dina itu cantik, pintar, atau gimanalah, sampai sampai menolak Turnip gitu loh. Akhirnya kamipun sampai di istana dian.

“tok tok,” ketok putri di pintu istana

“siaapahhhh”

“ini putri”

Saat itu dina terbangun oleh kedatangan kami, mengetahui yang  datang teman sekelas dan cewe, dian repleks buka pintu. Kemudian muka ku perlahan memerah, dan kami pun pulang dengan sebuah buku pinjaman yg nga di butuhkan, dan kekecewaan.

Dalam perjalanan, putri selalu mengejek, dan bilang  nya nga pede.

Sebenarnya saya sama sekali bukan nga PD, saat itu. hanya saja, Saya benar2 kecewa, karena ekspektasiku terhadap wanita itu sangat tinggi. Ternyata bukan Cuma jauh dari ekspektasi, tapi anda bisa bayangkan cewe baru bangun, rambut berantakan, muka sedikit gimana gitu. Itu di luar ekspektasiku sebelumnya, bertemu cewe yang tidak akan mau sama ku.

Lalu putri dengan tampang nya yang nga merasa bersalah, klarifikasi : “arti dari nga mau nya dia sama mu” , itu artinya “uda nga akan mau sama dia”. Logika seperti ini ntah dari mana, tapi karena itu ucapan putri. Trima sajalah ya.. heheh

 

Masih banyak tentunya kenangan bersama putri. Tpi kopinya benar benar habis, jadi sampai disini dulu. Tulisan ini menegaskan saja, motivasiku menulis itu, membuat cerita yg tidak tertebak… yg merasa temanku harusnya tau, heheheh.

Dan sekarang udah pukul 13.36, dan saya blum makan siang saudara saudara.

Okelah ya, mudah mudahan putri baca tulisan ini.

Iklan