Pencuri Mangga dan Pemilik mangga

… Mungkin hanya sebuah kebetulan lahir di desa kecil bernama Panangkohan, -Hometown ku ini berada di puncak pulau samosir. Kami tentu benar benar merasakan samosir itu sebagai pulau, karena kami bisa melihat sudut pandang yang lebih luas. Ketika kami menatap kea rah utara, akan terlihat pantai simanindo dan kabupaten simalungun di seberang danau. Menatap kea rah selatan akan terlihat kota kecil pangururan juga air hangat yang terseyum, dan semenanjung2 kecil. Menatap ke  rah selatan juga ada pantai lainnya beserta kabupaten dairi di sebrang sana. Sementara di sudut timur, ada pantai mogang nainggolan, dantentu kabupaten tobasa. Itu alasan sederhana, yg membuatku tidak pernah merasa orang pangururan. Sekalipun desaku masuk kecamatan pangururan, saya bisa merasakan satu kesatuan sebagai satu kabupaten samosir.

 

Salah satu yang harus di syukuri lahir di desa kecil, fasilitas kami sangat terbatas. The power of kepepet benar benar bisa di rasakan sejak dini. Setelah umur 12 tahun saya berangkat ke perantawan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, di kota pangururan. Jarak dari desaku sekitar 20 kilometer, dan 10 km di antaranya harus di tempuh dengan jalan kaki. Yang mana jalanya sangat terjal, bayangkan sekolah di bibir pantai danau toba, sedangkan rumah ku di puncak pulau samosir. Itu alasan kenapa harus nge kost. Saking tingginya, kadang kadang ada yang bilang 500 perak lagi ongkos untuk sampai ke sorga. Tapi memang, nga sekedar ejekan. Konon katanya, dulu Tuhan itu benar benar dekat dengan desaku, pagi kita berdoa, sore udah di kabulkan olehNya. Tapi seiring bertambahnya dosa2 warganya, Tuhan sudah semakin jauh untuk saat ini.

 

Setiap hari sabtu, saya dan teman2 perantau dari panangkohan, salah satunya Manton Turnip, pulang ke kampung. Pulang sekolah waktu itu, sekitar 13.30, dan karena langsung pulang dari sekolah, kami biasanya makan siang di rumah (panangkohan) sampai tepat 16.00. Kalau terlambat, fatal akibatnya. Kebetulan ayahku seorang dictator, tapi syukurlah aku terbiasa memiliki disiplin waktu yang sangat baik. Bukan sombong, setiap pembaca yang pernah satu orangnisasi atau kuliah bareng denganku bisa melihat saya hampir tidak pernah terlambat. Bahkan, terkadang lebih baik tidak sama sekali dari pada terlambat. Namun, kalau orang terlambat, saya tentu bisa toleransi, karena tidak semua terlahir seperti saya.

 

Sepulang sekolah pada setiap sabtu, kami mulai pendakian dari desa lumban suhi. Di pingiiran jalan, banyak kami temukan pohon mangga seperti di siarkan trans 7 barusan. Tanpa pernah berpikir itu dosa, tentu dinikmati saja, karena melakukan pencurian di lakukan berjemaah, kadang sampai 30 orang. Mungkin ini persis seperti di birokrasi yg rusak, karena melakukannya berjemaah jadilah nga merasa bersalah. Dan di desa lumban suhi  dolok (nama lain dari Harapohan) ada seorang bernama Risman Simajorang. Saat itu kami tidak saling kenal. Karena kami melakukan pencurian mangga tanpa batas, penduduk setempak (sebut saja Risman Family karena satu kampungnya) sering mengintai kami.

Suatu ketika, memanjat mangga yang paling tinggi di desa tersebut, (mungkin sok berani atau cari perhatian), saya terus naik ke puncak yang paling tinggi. Karena memang di puncak buah mangganya lebih bagus, karena hanya sedikit yang mampu meraihnya. Tanpa sadar, pemilik mangga mendekat bawa golok dan satu buah pohon besar. Melihat pemilik datang, teman2 seperjuangan melarikan diri. Akhirnya tinggallah saya satu lawan satu dengan pemilik mangga. Dia punya senjata bambu dan menusuk dari bawah. Tpi saya punya senjata mangga yang bisa melempar dari atas.. bagaimana kelanjutannya… nanti malam ya, saya pergi ngajar dulu… kan nga boleh terlambat, heheh

 

Part 2.

Kasusnya sedikit rumit, pemilik mangga tentu tidak berani menuju puncak mangga. Sekalipun memaksakan diri, sebelum dia sampai mungkin cabang pohon mangganya akan patah. Sayapun tidak bisa turun, karena bisa di potong dengan golok. Itu pertimbangan pertama waktu itu.

Kalau teman2 saya rame rame datang melawan pemilik mangga, itu juga masalah besar. Karena, bisa jadi esoknya kami tidak bisa berangkat kembali ke pangururan. Atau kasus terburuk, bisa jadi perang antar desa. Kita harus menemukan solusi tanpa masalah, (udah kayak iklan aja ya)

Kalau saya lempari pakai mangga dari atas, tentu itu nga cocok. Karena seperti ramalan zodiac yang belum tentu benar itu, cancer seperti saya, orangnya tidak tegaan melakukan penyerangan.

Kalau saya tunggu di atas, masalahnya, sampai di rumah akan terlambat dan akan fatal akibatnya. Seperti saya jelaskan sebelumnya.

Akhirnya sayapun menyerah. Menyerah turun perlahan, dan kontrak politik (dirahasiakan).

 

Dalam perjalanan pulang tersebut, ada orang tertentu yg di jemput dengan kreta (kalo dikota baca :motor). Melihatnya waktu itu, wow, itu seperti putri kerajaan yang punya pengawal dan supir pribadi. Tapi beberapa tahun berikutnya, sayapun pulang dengan kreta, baru sadar bahwa naik kreta itu biasa aja.

Esoknya pun tiba, hari minggu. Kali ini saya dan teman teman perantau lainnya berangkat menuju pangururan, salah satu kalimat yg menjijikkan waktu itu, sinidiran, “pardolok  pardolok ( orang kampung, orang kampung). Itu sungguh menyayat nyayat hati. Ucapan “pardolok” ini sering sekali di ucapkan orang di sekitar perjalanan kami, spesifiknya oknum tertentu di pangururan. Tapi sekarang, SAYA bangga sekali PARDOLOK. Kalau masih ada yg suka menyindir dengan sebutan pardolok, ya itu beda level dengan saya. Apakah level saya di bawah dia atau sebaliknya, itu urusan kedua.

 

Setelah ketahuan jadi pencuri, apakah kami berhenti mencuri mangga? Tidak teman, itu sama sekali nga, tapi meningkatkan kemampuan, termasuk menginteli pemilik mangga supaya tidak ketahuan lagi. Dan itu hanya menjadi terakhir kalinya tertangkap mencuri mangga.

 

Keahlian memanjat mangga ini tidak berakhir sampai di situ, di sekitaran pangururan kami menjadi professional. Memanjat kelapa, pining (pinang) beberapa proyek yang sering kami jalani di pangururan. Kali ini professional, bukan sebagai pencuri. Kalau tidak salah, waktu itu di bayar 5000 rupiah, memanjat puluhan pohon selama tiga jam. Pukul 15.00 sampai 18.00 sepulang sekolah. Meskipun sedikit banda, tentu saya hampir tidak penah bolos sekolah, bukan karena sok alim, tapi orang tua saya punya CCTV di sekolah, (orang tua saya berteman dengan banyak guru). Jadi sedikit saja bertingah di sekolah, akan sampai beritanya ke telinga ortu saya.

 

Kurang lebih filosofinya gini bro :

Missal kita punya ternak “kerbau”. Pilihan pertama, kerbaunya di ikat pakai tali (di tambat). Atau pilihan ke dua, di bebaskan dalam kandang. Tentu dalam pilihan kedua ini, kerbaunya merasa bebas, namun sebenarrnya banyak pagar yg membatasi.

Walaupun analoginya agak nga enak, tapi sepertinya seperti itu. Saya mengalami sedikit kegilaan dan kenakalan remaja, tapi dalam batasan tertentu.

 

Singkat cerita, 2006. Nama sayapun tercantum di kompas, bukan sebagai pencuri mangga ya, tapi lulus SPMB waktu itu, sekarang namanya SNMPTN. Dan buat saya kelulusan itu mengecewakan, karena lulus di pilihan kedua.

2007, Risman Simanjorang (pemilik mangga) yg mencatatkan namanya di kompas tersebut. Saya kurang tau, tpi sepertinya dia bahagia bangat.

Kemudian, saya (pencuri mangga) dan Risman (pemilik mangga) bertemulah di bandung. Kemudian kami dua sama sama mencuri mangga,, haha bcanda.

 

Setelah bertemu risman, sayapun menyukuri lulus di pilihan kedua waktu SNMPTN itu. Bertemu risman rasanya “sesuatu yang membahana cetar2” hehe.

Untuk risman family, maaf ya, mangganya kami curi. Anggap saja menabung, mudah mudahan di masa depan bisa membayarnya ke masyarakat pemilik mangga tersebut.

The end

Iklan