IPK, Organisasi, dan Hidup

Saya terinsfirasi bikin tulisan ini setelah baca notes teman saya, dimana pada notesnya dia berkata, saya baru saja gagal semester ini, dan saya akan membuktikan esok lebih baik. Saya selalu mengikuti perkembangan teman ku yang satu ini. Bukan karena dia cantik, tapi karena “saya merasa berteman dengan dia, tetapi dia tidak” sial, hhhh

 

Apakah IPK itu penting? Bagaimana dengan organisasi? Bagaimana dengan “saya ingin senang”?

Oia, saya tdk kuliah lagi, tinggal revisi tugas akhir. Dan di organisasi, baru saja LPJ dan sertijab, itu saya katakan bukan untuk bilang bahwa saya telah tenang, melainkan supaya anda sedikit percaya bahwa saya telah menjalani perjalanan mahasiswa secara lengkap, menginap di kampus karena organisasi, ujian dapat nilai E, penah dapat nilai 0 di mata kuliah aljabar linear, dan belum pernah dapat nilai 100. Nilai kecil itu bukan karena nga sulit, tapi karena spele,

Di samosir ada pepatah,

“dang madabu alani batu nabalga, alai ala batu nagelleng”

Kurang lebih artinya, seseorang terjatuh bukan karena batu yang besar tetapi batu yang kecil. Dengan kata lain, kegagalan itu bukan karena masalah besaar, tetapi masalah kecil”.

Nah, ujian di jurusan matematika biasanya bermasalah dalam penulisan, itu yg menghalangi dapat nilai seratus. Perjalanan yang lain dalam kuliah, misalnya mengerjakan TA tanpa progress selama 1 bulan, mempresentasikan yang salah di depan profesor dan tidak ketahuan, dan masih banyak pengalaman lainnya.

Lalu, apakah IPK itu penting? Penting bangat, setidaknya bikin orang tua senang bukan. Mungkin juga ke dunia kerja.

Bagaimana dengan organisasi? Menurutku itu lebih penting, kesempatan kenal banyak orang, wawasan yang luas, dan yang pasti kamu akan berkembang. Lalu, apakah organisasi akan membuat IPK kecil? Ia, kalau kamu sendiri mikir gitu, kalo mikir organisasi bikin IPK besar, akan begitu juga. Kalo saya sih gini, dulu saya non him, dan non unit, syukurnya IP 2.2, baguslah, masih di atas dua. Itu di dapat dari metode kupu kupu, alias kuliah pulang, kuliah pulang. Setahun kemudian, saya mulai kenal organisasi, dan aktif di 4 organisasi. Ternyata IP saya 3.67. kesimpulannya buat ku, sama dengan teman angkatan ku dulu. Diman IPK sebanding dengan ke aktivan ber organissasi.

Tapi apakah IPK dan Organisasi itu cukup? Cukup, cukup buat makan.

 

Selanjutnya, kenapa judul tulisan ini ada kata kata HIDUP? Dari pengamatan saya terhadap teman teman saya, dan terhadap saya sendiri. Mestinya kuliah itu, jangan mikirin IPK dan Organisasi. Tetapi pikirin HIDUP. Hidup disini maksdunya, apa yg akan di lakukan setelah kuliah, kenapa ambil keputusan tersebut, apa akibatnya? Ada nga keputusan yang lebih bijak dari itu? Sekarang tanggungjawab saya apa? Dan setidaknya harus sadar “SETIAP ORANG YG PERNAH KULIAH, ORANG TERSEBUT 5% ORANG BERUNGTUNG DI INDONESIA, DAN ORANG TERSEBUT BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP (1/0.05×230.000.000 orang )x 0.95X 230.000.000 ORANG, DENGAN KATALAIN ORANG TERSEBUT BERTANGUNGJAWAB TERHADAP 19 ORANG YANG LAIN”.

Iklan