[Jangan di baca kalau tidak mau membaca sampai tuntas]
“Peluang tuan tahah sukses lebih kecil dari peluang pendatang sukses”
Apa anda pernah dengar Tungga ni Huta, tungga ni hura merupakan pendiri /penerus dari huta. Huta itu suatu daerah yang di buat orang batak sebagai himpunan dari beberapa rumah. Missal, a memiliki sebidang tanah, kemudian membuat parik (benteng yang di bentuk dari tanah), lalu menanami bambu di atas parit tersebut. Luas daerah yg di benteng tersebut biasnya muat 14 sampai 18 rumah. Itulah yang di sebut huta. Biasanya, huta tersebut juga memiliki habong ni hutang, yaitu suatu daerah di sekeliling huta tersebut untuk di gunakan oleh orang yang tinggal di huta tersebut. Jadi, mendirikan huta tidaklah muda, seseorang harus memiliki tanah yang luas, tempat rumahnya di tambah habong ni huta untuk tempat bercocok tanam. Pendiri huta tersebutlah yang di sebut tungga ni huta. Kemudian, jika pendiri huta tersebut meninggal, tungga ni huta akan di pegang anaknya, dan jika anaknya tidak tinggal di situ, tahtah tungga ni huta akan jatuh ke orang terdekat dari pendiri huta yang tinggal di huta tersebut. Tungga ni huta biasanya dermawan, bersedia membagikan tanahnya ke orang yang tinggal di huta yang dia bangun. Tetapi ketika seserang tersebut pindah ke kota, atau keluar dari huta tersebut, tanah yang dulu di berikan kembali ke tungga ni huta. Akibatnya, tungga ni huta selalu tuan tanah.
Dalam 8 tahun terakhir, saya pulang kampung ke samosir mengunjungi orang tua saya. Ya, saya kira kira pulang sebanyak 10 kali. Alasan kepulangan saya macam macam, ada karena libur semester terlalu lama, ada karena pesta, dan ada karena perang saudara. Perang saudara di sini, tidaklah ekstrim. Perang saudara di sini adalah perkara tanah. Sering terjadi gugat mengggugat. Setia orang berusaha mengkleim, ini tanah saya. Dan saya sebagai “pangeran” alah… biasanya turun untuk menyelesaikan.
Anda mau tau cara menyelesaikan?
Malam sebelum rapat di desa. Saya datangi rumah orang yang mengkleim tanah sambil membawa pisau, dan sebagai kalimat pengantari pisaunya “hu hariar ma butuha mi” (ku putar2lah pisau ini di dalam perutmu). Dan nyali orangnya akan ciut, akibatnya ketika besok rapat di desa, dia akan mengalah. Apa anda percaya? Kalau percaya, saya berhasil membohongi anda. Saya tidak se ekstrim itu kali…
Cara menyelasaikannya biasnya, mengadakan diskusi, mengundang semua raja raja adat, natua tua, kemudian mencari saksi tentang siapa pemilik tanah tersebut. Kemudian berdamai, jika tidak bisa akan di lanjutkan ke pihak yang berwajib. Maklumlah, tanah di samosir kebanyakan belum memiliki surat tanah, itu yang menyebabkan sering perkara tanah. MUNGKIN INI PR BUAT EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF DI SANA, tapi sepertinya tidak bisa berharap banyak kepada mereka. Kita hanya bisa menunggu generasi mendatang yang lebih baik, generasi yang tanpa KKN. Ya sudahlah, membahas itu terlalu berat nampaknya….
Karena sering menghadapi masalah seperti itu, saya kemudian bertanya, kenapa sering terjadi? Dan apa solusinya?. Kesimpulan saya mengarah kepada “perbedaan ke adaan ekonomi”, lalu kenapa?
““Peluang tuan tahah sukses lebih kecil dari peluang pendatang sukses”
Missal keluarga A merupakan keluarga tuan tanah. Mereka kemudian bertani, dan jika mereka ingin pendapatan yang lebih, mereka tinggal membuka lahan baru. Ini seperti kejadian di amerika jaman dulu. Mereka tidak kesulitan membuka lahan baru. Berbeda dengan keluarga A, keluarga B tidak memiliki tanah yang luas, mereka termasuk pendatang di bandingkan dengan A. akibatnya, untuk memperoleh pendapatan lebih, mereka harus rajin mengurus kebun mereka, mengatur pupuk yang pas, membersihkan rumput rumput di kebun. Mereka tidak dapat menambah kebun, sebab mereka tidak punya tanah. Ini mirip seperti kejadian di china, korea, jepang jaman dulu. Mereka kerja lebih keras. Jika di amati beberapa tahun kemudian, keadaan ekonomi telah berubah, keadaan ekonomi keluarga B akan lebih baik di banding keluarga A. Ini menimbulkan kecemburuan. A merasa, kita tuan tanah disini, kenapa mereka yang lebih kaya?, hal ini bertahan dalam pikiran A. Kemudian, ketika B mempunya sedikit kesalahan terhadap A, baik dalam cara berbicara, cara berjalan, dan sebagainya. A akan emosi, dan akan membuat masalah dengan B. kemudian, A menelusuri, bahwa tanah yang di miliki B di berikan oleh orang tua, atau oppung mereka. A akan menarik kembali tanah tersebut. Itulah perkara. Apakah masuk akal?
Sebelumnya saya menulis “sepertinya tidak bisa berharap banyak kepada legislatif dan eksekutif sekarang” ya, mereka tidak tau masalah seperti ini, bagaimana mungkin mereka dapat menyelesaikan. Mereka kebanyakan hanya hasil politik praktis, money politic dan lewat tol. Ya, coba bayangkan, anda selalu lewat jalan tol, apakah anda akan melihat macet di sana, apakah ada pedagang kaki lima di tol? Tidak.
Ketika saya kuliah, dosen saya pernah bilang, General manager garuda itu selalu penumpang, bukan pilot. Itu supaya dia tau pelayanan terbaik, lalu
Samosir butuh legislatif dan eksekutif yang lahir dan besar dari masalahan disana, sehingga mempunyai solusi.
Lalu, apakah semudah itu? Tidak teman, data dari BIT (Bandan Intelijen Turnip) hhh untuk jadi legislatif, atau eksekutif harus kaya. Ketika pun ada orang yang benar benar memiliki kemampuan dan mau duduk di legislatif dan eksekutif, masyarakat tidak akan percaya. Mereka lebih tertarik dengan uang 50.000 atau 100.000. Jangan salahkan mereka, kalau kita jadi mereka, saya yakin akan memilih hal yang sama
Lalu, apakah kita harus putus asa? Pesimis?
Oh, tidak bisa…
Kita masih punya satu solusi, ini seperti solusi tunggal di persamaan matematika, KITA tunggu generasi ksatria yang mau bertarung fair play. Saya yakin, legislatif dan eksekutif mendatang pasti dari antara orang yang baca notes ini. Anda harus berjanji fair play. Kalau anda juga sama dengan generasi sekarang, siallah
Anda harus ingat kalimat tadi
“ hu hariar ma buttuha mi”…
Untuk anda ksatria,
“Kalau kita terlahir untuk berbenturan dengan masalah, itu bukan salah kita, tetapi kalau kita mati meninggalkan masalah, itu salah kita”
Untuk anda tukang angkat keper, menunggu jatah, pelanggan jalan tol
Ada saatnya tidak ada lagi koper yang anda angkat angat,
Ada saatnya jalan tol buat anda di tutup
Ada satnya anda bertemu ksatria
Jangan sampai aku harus mengunjungimu di lembaga TIPIKOR,
Kalaupun, saya harus mati sebelum menghentikan kebobrokan itu
Saya akan minta tidak massuk surga
Saya akan memilih jadi hantu
Hantu yang menemu imu…
Dan jika Tuhan tidak mengijinkan,
Aku akan memimta untuk terlahir sebagai ksatria baru
Mungkin kau sudah mati di sana
Tetapi aku tulis
1000 koruptor samosir
Anda tau,
Anak cucumu akan malu….
Jadi, cepat cepatlah bertobat kawan…
Anakmu tidak akan bangga dengan harta yang kau tingalkan
Mereka bangga dengan nama baikmu
Berhentilah
Please
Perjalanan Ksatria
Sebut saja mereka ksatria, mereka lahir dari tengah tengah keluarga sederhana. Mereka tidak lahir di rumah sakit, atau di klinik seperti pengalaman anak anak pada umumnya. Mereka lahir di bantu seorang dokter didikan alam, sebut saja mereka sibaso. Terkadang, ayah mereka tidak mengetahui kelahiran mereka. Ada ayah yang sedang bertani, atau mungkin sedang manjaha (membaca). Manjaha di sini tidak seperti yang kalian bayangkan, manjaha di sini adalah membaca kartu. Sebutlah marleng (main remi). Seperti orang orang Sparta jaman dulu, hanya orang orang kuatlah yang bertahan hidup. Sebagian mati, karena penyakit ringan. Saat dalam kandungan, tidak ada pengecekan rutin setiap minggu untuk ksatria ini. Tidak hanya karena kemiskinan, kesadaran akan pentingganya kesehatan yang rendah mempengaruhi seleksi alam tersebut. Fasilitas rumah sakit yang terbatas juga menyebabkan mereka tidak lahir di rumah sakit. Ya, hidup mereka tergantung dokter didikan alam (si baso). Bayi yang masih bertahan hidup itulah calon ksatria masa depan. Dan yang mati, biarlah mereka lebih santai di surga.
Para ksatria memasuki play group. Play group tempat ksatria berbeda dari apa yang ada di kota atau di luar negri sana. Mereka belajar dari alam, mereka berguru dari pengalaman sehari hari. Mereka takut jatuh setelah terjatuh. Itulah pelajaran di hari pertama ksatria. Mereka tidak di didik untuk menghitung 1 + 1, tetapi mereka mengetahui berapa jumlah ternak yang mereka. Ya, bereka belajar “mandiri”.

Pada tahap ini, ksatria telah lulus ply group tanpa sebuah ijasah dan bersiap masuk ke sekolah dasar. Ksatria sengajah di pilih guru terbaik negri ini. “terima kasih mendiknas, anda telah memberikan kami guru terbaik, mereka mengajarkami hanya sekali dalam 1 bulan”. Ujar ksatria. Hal positif dari kemalasan guru ksatria “ ksatria memiliki waktu bermain terbanyak di seluruh sekolah di dunia”
Setelah pulang sekolah, ksatria membantu orang tua mereka. Ada yang membantu mengurus ternak, ada yang mengurus kebun, dan ada yang bertugas menjaga adik kecil mereka.
Pelajaran mereka hari ini “tanggung jawab, kerja keras, dan bermain”.

Rumah ksatria ke SLTP cukup jauh. Ada yang memili nge kost, ada juga yang memilih tetap pulang kerumah orang tua. Untuk pulang mereka harus menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer. Untunglah, 10 kilo meter masih ada bus. Dan hanya 10 kili meter di tempuh dengan jalan kaki. Perjalan menanjak seperti gambar di samping menjadi pengalaman sehari hari meraka. Sekarang, apakah anda percaya mereka memiliki otot yang kuat?
Bagi mereka yang memih nge kost, mereka membantu ibu kost mereka, dan sebagian bekerja di toko bangunan, sebut saja markenek. Jadi, tidak masalah dia nge kost atau pulang, otot mereka tidak berbeda. Lalu, apa pentingnya otot untuk ksatria? Toh merek tidak hidup untuk perang dengan senjata, mereka di persiapkan menggunakan otak. Saya berikan anda sedikit kalimat “bilangan imaginer jauh lebih banyak dari bilangan real”. Apa ada mengerti? Sudahlah, saya kasih yang lebih sederhana saja. “lebih banyak yang tidak terlihat dari yang terlihat” loh hubungannya apa?
Sekilas, otot yang mereka latih tidak memiliki hubungan dengan otak, itulah yang terlihat. Tetapi ada yang tidak bisa anda lihat, pada saat mereka melatih otot, mereka sedang sedang mendefinisikan apa itu hidup. Hudup itu keras, kerja keras adalah satu satunya untuk bertahan. Mereka sekarang mengingat kembali pelajaran mereka waktu SD. Jadi, dalam mata pelajaran “kerja keras” mereka telah di level II. Ke gunaan pelajaran kerja keras akan di jelaskan kemudian. Di sisi lain, saat mereka nge kost, mereka belajar optimasi. (optimasi adalah mata kuliah sarjana di jurusan matematika). Mereka harus melakukan optimisasi keuangan mereka selama tinggal di kost. Bagi mereka yang memilih pulang ke rumah, mereka belajar teori graff (teori graff merupakan mata kuliah sarjana di jurusan matematika juga). Teori graff mereka gunakan menentukan mana jalan terpendek untuk sampai rumah. Sama seperti pelajaran kerja keras, baik mereka pilih nge kost atau pulang ke rumah orang tua, mereka tetap memiliki dasar matematika yang bagus untuk selanjutnya di kembangkan di USU, di ITB, atau di MIT. Jadi, jangan heran bertemu kstatria yang kemampuan eksaknya bagus. Selain kerja keras jilid 2, dan dasar matematika, ksatria memiliki pelajaran terakhir di tahap ini. Yaitu mata pelajaran “cara beradaptasi”. “si dapot solup do na ro, di situ bumi di pijak di situ langit di junggung”, peribahasa ini tidak lah mengada ada. Ksatria sekolah di lingkungan orang lain, satu satunya pilihan adalah “beradaptasi”.

Ksatria sekarang memasuki SMA. Di sini mereka pelajaran mereka tidak berbeda dengan ketika duduk di SLTP, mereka hanya memperdalam pelajaran selumnya. Ups… saya lupa, foto di atas menggambarkan perjalanan mereka pulang ke rumah. Bus mewah seperti berkeliling di singapura. Ada lantai satu ada lantai dua. Apakah keselamatan penting? Penting sih, Cuma… mereka memiliki otot yang bagus, jatuh dari mobil itu terlalu menggangulah…
Inilah nilai rapot ksatria setelah lulus sma
- Mata pelajaran mandiri (pay group, SD, SLTP, SMA)
- Mata pelajaran Kerja keras I (SD, SLTP, SMA)
- Mata pelajaran tanggung jawab (SD, SLTP, SMA)
- Mata pelajaran bermain (SD, SLTP, SMA)
- Mata pelajaran beradaptasi (SLTP, SMA)
- Mata pelajaran dasar matematika (SLTP, SMA)
- Kekuatan otot (SLTP,SMA)
Apa yang bisa kita lihat dari nilai rapot tersebut?
Mungkin mereka tidaklah sepintar lulusan sma di kota, tetapi melera memiliki dasar yang sangat bagus. Sekalipun melepaskan ksatria ke kandang harimau, mereka akan mampu bertahan hidup.
Apakah mereka akan sukses?
“BELUM TENTU”
Tanya kenapa?
Ya, ada satu pelajaran yang belum pernah di pelajari oleh kasatria ini. Mereka akan bermasalah ketika harus mengkomunikassikan sesuatu, mereka kesulitan menggungkapkan apa yang mereka inginkan. Sebagai contoh, mereka akan kesulitan ketika harus anda suruh menjelasan sesutu di depan umum. Pelajaran mereka selama ini, hanya bagaimana bertahan. Mereka tidak di ajarkan menyerang. Kata yang lebih tepat, mereka terbiasa untuk reaktif, belum terbiasa untuk proaktif. Itulah salah satu kesulitan mereka untuk mengubah dunia.
Kebiasaan itu berdapak pada tinggkat keberhasilan mereka. Di samping akses mereka terhadap informasi yang terbatas, kebiasaan rekatif mereka berdapak pada, kecil kemungkinan mereka akan mencari informasi. Mereka akan menunggu katalis sehingga bereaksi. (katalis sesuatu yang mendorong orang orang pasif). Mereka akan pasif. Itu kesulitan terbesar mereka.
Apa yang dapat memastikan kesuksesan untuk para Ksatria?
“KESEMPATAN”
Mereka terlalu tua untuk kembali belajar bagaimana menjadi proaktif. Solusi terbaik adalah memberikan kesepatan bagi mereka yang reaktif tersebut. Ya, mereka membutuhkan katalis, lalu mereka akan mengubah dunia. Menjadi katalis dapat di lakukan berbagai cara. Berikan mereka informasi tentang dunia perkuliahan, berikan mereka cara mendapat beasiswa, berikan mereka contoh perjuangan orang sukses. Hal kecil itu akan menyebabkan reaksi. Anda dapat menunggu goncangan akibat reaksi tersebut. Anda akan merasakan ledakan yang lebih besar dari ledakan di hirshima dan nagazaki, mkn sebesar ledakan gunung toba. Mereka akan mengubah dunia.
KSATRIA yang ter cinta,
Aku terlanjur mengenal mu
Aku tak pernah menyesal untuk itu
Dan tak ada kesempatan menyesalinya
Aku telah memilih mengenal mu
Kau tau,
Aku lebih memilih bersamamu
Dari pada menatap bandung dari sejuknya lembang
Bersama gadis gadis
Pilihan ku tepat
Mengenalmu indah
“wonderful leih tepatnya..
Ksatria
Dengarlah
Kau tak harus memenangkan peperangan mu
Tapi berjanjilah akan mencobanya
Aku percaya sama mu,
Setauku, kau ksatria
Kau tidak belajar menadi pengecut
Aku tau kau akan mencoba
Terima kasih kepada membantu terbitnya tulisan ini!
- Keluarga besar IKANMAS [Ikatan Mahasiswa Asal Samosir]
- Samosir Berubah
- POMPARAN RAJA TURNIP
- Abang A. Saragih untuk fotonya
- SD Lumban Naganjang, atas kesempatannya mengenal ksatria muda
- SLTP dan SMA yang ada di samosir
- Dan semua yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
“Big Power Comes With Big Responsiblity” – spiderman
and
“NO SACRIFICE NO VICTORY” -TRANSFORMERS
Salam hangat
Peri Turnip
Email : turnip_fbi@yahoo.com
Blog : www.turnipfbi.wordpress.com
Facebook : Peri Turnip