Bagian 3
Kesalahan belajar Matematika.
Dari sekian banyak survey yang saya lakukan selalu memberika kesimpulan yang sama. Tidak sampai 15 % dari populasi yang menyukai matematika. Dan yang paling mengejudkan, untuk anak SMA yang mengambil jurusan IPS hampir tidak ada yang menyukai pelajaran tersebut. Pada hal, hampir di semua jurusan di perguruan tinggi akan berhadapan dengan matematika. Jadi, tidak perlu menunggu seseorang masuk kuliah, sejak SMA kita telah mengetahui bahwa seseorang tersebut kemungkinan akan megalami kesulitan di perguruan tinggi nantinya. Muncul pertanyaan, kenapa matematika tidak di sukai?
Di banyak tempat, matematika identik dengan rumus, atau lebih di kenal sebagai berhitung. Itulah kesalahannya. Banyak orang jadi lupa berpikir.
Fakta di lapangan. Mahasiswa banyak belajar berhitung, kemudian berpikir mau di kemanakan alat hitung tersebut. Konyol bukan? Kalau berbicara lebih umum, semestinya pendidikan menjawab permasalahan masyarakat. Dan jika di hubungkan dengan matematika, seharusnya kita kenali permassalahan yang ada dalam kehidupan sehari hari, lalu mencari matematikanya. Tidak seperti yang terjadi sekarang ini, kita hanya import rumus rumus, kemudian kebingungan mau menggunakanya kemana. Itulah kesalahan belajar matematika.
Kenapa banyak anak anak tidak menyukai matematika?
Seperti di jelaskan sebelumnya, banyak orang blajar matematika dengan cara yang salah, seperti tidak memperhatikan urutan “berpikir”, “berhiting”, dan “membahasakanya”. Di banyak sekolah yang ada di Indonesia, cendering mengidentikan matematika dengan berhitung. Itulah penyebab banyak anak anak tidak menyukai matematika. Bagaimana tidak, belum tau permasalahannya sudah di suguhi rumus rumus aneh…
Alasan kedua matematika tidak di sukai karena di ajarin oleh orang yang salah. Kalau tidak percaya, coba Tanya guru anda, apakah dia menyukai matematika juga? Apakah dia memahami matematika?.
Faktanya sedikit orang yang menyukai matematika, dan dari yang sedikit itu, hanya sedikit bangat yang jadi guru. Dan dari guru itu, sangat sangat sedikit yang jadi pengajar matematika. Belum lagi populasi yang harus belajar matematika sangat banyak. Jadi, menurut peluang, kemungkinan anda bertemu guru yang benar sangat sangat sedikit dan harus bersaing dengan orang yang sangat banyak. Dengan kata lain, sulit bagi anda bertemu guru matematika yang benar.
Alasan yang kedua inilah yang melatar belakangi buruknya matematika di Indonesia, yang membuat saya sangat tertantang. Kenapa tertantang?
Ada matematikawan bernama Paul Edward, dia selalu berkunjung ke Negara Negara di dunia, memberikan problem matematika yang dia miliki. Dia telah mengunjungi seluruh Negara di dunia, kecuali dua Negara. Dan salah satu dari dua Negara terrsebut, adalah INDONESIA. Alasan dia tidak mengunjungi dua Negara tersebut adalah tidak ada matematikawan di dua Negara terrsebut. Itulah yang membuat saya tertantang. Bagaimana dengan anda? Apakah di indonesia benar benar tidak ada matematikawannya?
“hanya ada dua kemungkinan seseorang tidak menyukai matematika, pertama : blajarnya salah, dan kedua: di ajarin orang yang salah”
Matematika tanpa IQ.
Saya memilih judul ini, supaya sedikit kontroversial, dan akhirnya anda tertarik membaca. Namun, pada dasarnya saya hendak mengatakan
“hubungan kepintaran dalam matematika dan IQ tidak signifikan, tetapi kepintaran dalam matematika bergangtung kepada ketahanan bekerja keras”
Penelitian menunjukan IQ orang barat lebih tinggi dari orang asia, khususnya china, korea, dan jepang. Tetapi orang china, jepang, dan korea selalu lebih pintar dalam matematika. Di teliti lebih jauh, hal ini di sebabkan, orang asia tersebut selalu lebih lama blajarnya. Jadi, sekalipun seseorang memiliki IQ yang pas pasan bisa hebat dalam matematika asalkan mau bekerja keras, bertahan menghadapi problem.
Memanjakan anak = pembodohan
Menurut teori evolusi Lamarck, orang tubuh yang sering di gunakan akan semakin berkembang, dan organ yang jarang di gunakan akan semakin menyusut. Lalu apa hubungannya dengan memanjakan anak?
Saat ini, kita sering menjumpai keluarga yang membuat semuanya serba ada. Fasilitas yang mewah, makanan serba ada, apapupun yang di minta anak akan selalu ada di buat oleh orang tua. Itulah yang saya namakan memanjakan anak. Memberikan keinginan anak, sekalipun itu bukan kebutuhannya. Saya tidak sedang menghalangi anda memberikan kasih sayang terhadap anak anda, saya hanya mengajak “memberikan kebutuhan anak, bukan keinginan anak”.
“stop menghancurkan masa depan anak Indonesia”
Memberikan keinginan anak membuat anak tersebut tidak banyak berpikir. Semua tinggal minta dan akan segera datang. Jika di hubungkan dengan teori evolusi, anak tersebut tidak perlu berpikir banyak, dan hasilnya otaknya tidak berkembang. Mudah mudahan tidak menyusut. Seperti teori evolusi.
Memanjakan anak membuat dia malas berpikir, (Melihat hal yang paling sasar dari matematika adalah “berpikir” seperti dalam bagian 1), tidak berpikir banyak berarti kemampuan matematikanya akan rendah. (karena matematika di gunakan dari TK sampai perguruan tinggi). Rendahnya kemampuan matematika akan menghabat anak bealar dari TK hingga perguruan tinggi. Itulah proses terjadinya pembodohan.
“memanjakan = pembodohan”.