Anak di suruh sekolah, atau di suruh hidup?
Prolog
Sekolah, Sekolah tidak berarti hidup, sekolah hanya sebagian kecil dari hidup, SOO (study orientid only) berarti hanya sekolah saja, SOO (study orientid only) belum tentu hidup…. hidup, hidup berarti ingin lebih, hidup harus terus belajar, hidup harus sekolah, SO (study orientid) berarti tidak hanya sekolah, SO(study orientid) untuk hidup.
(1) kejadiaannya habis liburan seperti sekarang, orang tuanya memberangkatkan anaknya sekolah dengan pesan, “burju burju ho sikkola amang” (baik baik sekolah ya nak), jangan banyak kegiatan kecuali sekolah, intinya SOO ja (study orientid only). jangan pikirkan masalah uang, calanaku pun ku jualnya demi sekolah mu nak. lalu anaknya berangkat sekolah dengan penuh semangat. dan kesehariannya penuh dengan SOO. bersambung
(2) beberapa tahun kemudian anaknya lulus, yang pertama dia lakukan dia menemui orang tuanya, lalu memberikan transkrip. ayah, ibu, ini transkrip ku, aku da lulus, sekarang aku baru mau belajar.
(3) poinnya apa?, orang tidak dapat jadi apa apa dengan traskrip itu, tetapi orang akan jadi besar dengan apa yang di pelajari, jadi ijinkan anak anak belajar.
dan ijinkan anak anak tumbuh dewasa, artinya biarkan dia tumbuh tanpa mengikuti keinginan orang lain,, karen itu hidupnya. walau dia harus gagal terlebih dahulu, itu bagus. sebab pemimpin lahir dari perang, bukan dari kantor ato buku. jangan jadikan dia lemah, karena orang tuapun tidak siap anaknya lemah. Dan catat “membuat anak sesuai keinginan orang tua, hanya membuat anak tersebut semakin lemah”.
(4) Sejarah tidak hanya sebuah kebanggaan semata, tetapi Sejarah berfungsi sebagai bahan pembelajaran untuk menghadapi masa depan. Serangkai kata yang mudah untuk di ucapkan, namun sulit di lakukan. kembali pada masa lalu sebelum tahun 90, orang tua menyuruh anaknya sekolah dengan pesan “lului ma amang mu di pangarantoan” (carilah orang tuamu di tanah rantau), di sini setiap anaknya di persiapkan untuk hidup di kondisi apapun. Dan sekolah lah, walau aku tak dapat membuat mu sekolah. beberbeda dengan tahun sekarang,, orang tua memberikan pesan “burju burju ho sikokola amang” (baik baik … sekolah nak),, setelah lulus anaknya penganguran.. ini wajar, karena anknya di persiapkan sekolah,, tidak di persiapkan hidup… dan kalapun anak ini bekerja, akan bermasalah dengan sikap, tidak tau adat, apatis, dll.. lalu orang akan bilang, percuma nya itu sarjana. Perbedan lainnya, jaman dulu orang tidak mengukur sesuatu dengan fasilitas atau materi, sekarang orang berpatokan pada fasilitas. Ironis bukan.
(5) ini sebuah kisah nyata. tidak menggurui sama sekali. boleh sepakat boleh nga.. tetapi untuk mengerti cerita ini, jangan pernah hanya melihat dari sudut pandang anda.. tetapi harus melihat dari perspektif orang lain. misal coba tanya pada orang lain, lebih penting mana trasnskrip atau sikap, kalau memang transkrip suruh aja sekolah, kalu sikap,, suruh anak anak hidup… lebih jauh lagi, coba bertanya “ lebih baik mana punya hard skill dan soft skill di banding hanya punya hard skill”, dengan kita memilih hidup kita akan punya hard skill dan soft skill, tetapi hanya sekolah kita hanya dapat hard skill. dan kalau anda SOO jangan menjelek jelekan yang bukan SOO, hargai perbedaan itu, karena perbedaan itu indah.. kalo anda pernah SOO dan Pernah Bukan SOO, barulah anda dapat berpendapat mana yang baik.. kalau anda hanya menjalani salah satu, jalani saja,, jangan menyalahkan yang lain
(6) anak yang di suruh hidup atau anak yang di suruh belajar tidak berarti meninggalkan sekolah, mereka tetap SO (study Orientid) tetapi bukan SOO(study orientid only). Disisi lain, terkadang nilai orang yang SS justru lebih baik dari nilai SOO, sebab orang yang SO punya banyak kegiatan sehingga tidak dapat menunda belajar, sementara orang yang SOO dapat menunda, karena mereka punya waktu banyak dan kegiaatan hanyalah belajar. Terkadang orang yang SO lupa bahwa mereka harus megejar nilai juga, terkadang orang yang SOO hebat sekali karena fokus. Semuanya punya positif negatif, dan tidak perlu mengatakan mana yang lebih baik, yang terpenting jika anda orang tua “ijinkan anak anak bertumbuh merdeka, sebab itu hidup mereka” yang manapun pilihan anak itu, itulah yang terbaik. Lingkungannya hanya mendukung pilihan tersebut. dan, pilihlah pilihanmu dan lakukan yang terbaik jika anda seorang anak. Namun, sebelum memilih, lihat kedua sisi terlebih dahulu, supaya jangan menyesal. dan jangan memilih sebelum mengerti pilihannya.
(7) So, what is your choice? Dan apa yang akan ada lalukan sebagai orang tua?
(8) Sampai jumpa 5 atau 10 tahun lagi (kalau Tuhan mengijinkan), aku dengan pilihan ku, anda dengan pilihan anda. Dan selama ini, aku di suruh hidup. Aku sekolah, karena sekolah bagian dari hidup itu. Kalau anda orang yang sama dengan ku, ayo kita hidup. Kalo anda mau sekolah, sekolah lah.. dan lakukan yang terbaik
(9) Spesial untuk orang yang memilih hidup. Ketika kita memilih hidup, berarti kita tidak sendiri, kita harus bermamfaat bagi orang lain, dan setidaknya tidak menyusahkan orang lain. Lalu bagaimana kita bermamfaat bagi orang lain? Langkah pertama kita tidak menyusahkan orang lain. Langkah kedua, kita harus membantu orang lain minimal seperti kita (yaitu tidak menyusahkan orang lain) ini dapat di lakukan dengan pendidikan. Metode pendidikan disini ada tiga langkah, satu kita memberikan contoh dengan kata lain, kita menjadi teladan bagi mereka, metode kedua, kita mengajak mereka, dan jika mereka tidak mau di ajak. Gunakan cara terakhir (metode ketiga), kita paksa mereka. Memaksa di sini tidak berarti kekerasan fisik, memaksa di sini lebih ke mental. Ketika orang lain tumbuh minimal seperti kita, artinya kita bermamfaat bagi mereka. Demikian juga untuk hal yang lain, kita menjadi teladan, mengajak orang lain, jika tidak bisa di ajak, lakukan pemaksaan. Itulah ke bahagiaan, itulah hidup.
(10) Sadar atau tidak, kita juga telah belajar dari orang lain tersebut, hanya saja belajarnya secara fasip. Dan dalam kenyataan nya, kita saling membutuhkan. Dan apa itu makna hidup akan terjawab. Belajar terus menerus, hidup bermamfaat bagi orang lain, itulah makna hidup, kalau anda tidak sependapat, setidaknya itulah di kepalaku hingga detik ini.
& Komentar
Desember 1, 2009 pukul 10:50 pm
Fasip tuh artinya apa Kak?
Desember 2, 2009 pukul 11:25 am
fasip?? yang mana?
Desember 2, 2009 pukul 4:49 pm
(10) Sadar atau tidak, kita juga telah belajar dari orang lain tersebut, hanya saja belajarnya secara fasip.
Artinya apa Kak?
Desember 2, 2009 pukul 5:11 pm
hahaha….
aku nga yakin km nannya..
kayaknya km mau ngasih yang lebih tepatnya ya…?
monggo,,, di persilahkan