BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Pembelajaran
Kondisi pendidikan di Indonesia pada saat ini sangat memperihatinkan. Kualitas pendididikan tidak semakin membaik. Sebagai dampak dari buruknya pendidikan tersebut penganguran semakin meningkat dan ekonomi masyarakat semakin memburuk juga kriminalitas yang tinggi. Di era kehidupan modern saat ini, pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu negara. Buruknya pendidikan di Indonesia menunjukkan ketertinggalan Bangsa kita. Kondisi yang lebih buruk adalah orang berpendidikan di Indonesia tidak mampu membawa perubahan bagi masyarakat. Faktanya, orang orang berpendidikan di indonesia banyak yang hanya memikirkan diri sendiri, seperti; lulusan Institut Teknologi Bandung yang biasanya hanya mengharapkan bekerja di persahaan luar negeri.
Matematika sebagai ilmu yang berperan penting dalam pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan modern. Faktanya, kualitas matematika di indonesia sangat rendah. Masalah kualitas pembelajaran matematika di Indonesia sangat kompleks, minat siswa tentang matematika yang sangat rendah, sistem pendidikan yang tidak baik. anggapan masyarakat matematika sebagai ilmu yang menakutkan, rumus, dan sebagainya. Fakta tersebut menggambarkan kualitas matematika di Indonesia.
Melihat Fakta diatas, penulis ingin memberikan evalusi untuk memperbaharui pembelajaran matematika sekolah. Dalam laporan ini akan di sampaikan kondisi Pembelajaran matematika sekolah dan evaluasinya di SMA N 10 Bandung.
2. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang penulis ajukan adalah Bagaimana memperbaiki kualitas pembelajaran matematika sekolah di SMA N 10 Bandung.
3. Tujuan pembelajaran
Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kemauan siswa belajar matematika agar kualitas pendidikan semakin meningkat. Penulis meyakini kemauan belajar akan memperbaiki kualitas pembelajaran matematika sekolah. Selain itu, penulis merumuskan tujuan khusus sebagai berikut;
1. Menerapkan pembelajaran matematika yang menarik
2. Mengetahui minat dan pandangan sisa terhadap matematika
3. Menerapkasn metoda pengajaran student center
4. Mengembangkan logika berpikir matematis, sistematis, dan kritis
5. Mengembangkan pola pikir siswa
6. Mengembangkan Problem Solving
7. Mengembangkan kemamampuan berkomunikasi siswa, dll
4. Metoda pengajaran
4.1. Siswa bekerja dalam kelompok. Melalui kegiatan ini, setiap siswa mempunyai kesempatan mengemukakan pendapat dalam kelompok.
4.2. Siswa sebagai tokoh utama dalam pembelajaran. Kegiatan ini aka berdampak terhadap rasa ingin tau setiap siswa, dengan demikian setiap siswa akan memiliki pemahaman.
4.3. Kegiatan yang di lakukan oleh siswa yaitu, menemukan pola, menyederhanakan masalah, kemudian berdiskusi.
5. Tempat dan waktu pengajaran
Tempat : SMA N 10 Bandung
Jln. Cikutra no.77
Kelas : X ( dengan 40 siswa )
Waktu : ∙ Sabtu, 27 Oktober 2007
∙ Sabtu , 02 November 2007
BAB II KEGIATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DI SMA NEGERI 10 BANDUNG
Pembelajaran Matematika di kelas
Kegiatan pembelajaran matematika sekolah yang telah di lakukan di SMAN 10 Bandung dilakukan di kelas X yang terdiri dari 40 siswa. Kegiatan yang telah dilakukan yaitu menggunakan metode Student Center. Alasan kita memilihmetode ini adalah, agar setiap siswa terlibat akatif dalam kegiatan. Dalam kegiatan ini, setiap orang akan di tuntut untuk belajar. Dengan kata lain, perlajar menjadi tokoh utama dalam pembelajaran, sedangkan pendidik berperan sebagai pengarah kegiatan sehingga pemahaman siswa akan terbentuk.
Pada awalnya, siswa dibagi menjadi delapan kelompok. Pengelompokan tersebut dilakukan secara acak, tanpa mempertimbangkan kemampuan pelajar. Penulis menyadari memberikan kesempatan kepada setiap pelajar atau tanpa pengelompokan akan lebih baik, namun karena kelas yang cukup besar tidak mungkin dilakukan secara perorangan.
Setelah siswa di kelompokkan, setiap orang di pastikan duduk pada kelompoknya masing masing. Lalu, penulis memberika 4 buah permasalahan matematika yang harus diselesaikan setiap kelompok (soalnya dilampirkan pada halaman lampiran). Kebanyakan siswa antosias untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Pada soal nomor satu (1), setelah beberapa menit, ada dua kelompok yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan benar. Salah satu siswa diminta untuk menjelaskan kepada teman-temanya di depan kelas. Siswa tersebut menjelaskan dengan sangat menarik, sehingga suasana kelas menjadi penuh tawa. Tetapi, penjelasan siswa tersebut tidak berdasarkan pola permasalahan. Siswa tesebut menyadari bahwa mereka hanya memperoleh jawaban dengan mencoba-coba saja. Pada sola ini diharapkan siswa dapat menemukan pola, menyederhanakan permassalahan dan mendiskusikan bersama kelopoknya.
Pada soal nomor 2, diharapkan siswa dapat berpikir dengan cermat terhadap persoalan matematika, soal ini disaji secara menarik dengan cerita yang mudah dicerna atau ditangkap oleh siswa. Permasalahan ini merupakan bukti bahwa matematika bukanlah sekedar rumus. Siswa terlihat sangat antusias dengan soal ini. Sangat beraneka ragam jawaban yang siswa sampaikan, walaupun jawaban mereka tidak tepat. Banyak siswa yang menjawab soal ini dengan lelocon. Nilai positif dari kegiatan ini adalah kemauan siswa untuk belajar matematika mulai terlihat.
Berhubung waktu kegitan pembelajaran sangat terbatas, permasalahan ini menjadi tugas bagi siswa untuk pertemuan selanjutnya. Tugas ini bertujuan untuk mengetahui minat siswa, tanpa penulis menjanjikan hukuman atau hadiah untuk yang mengerjakan .
Pada pertemuan selanjutnya, kita memperoleh hal yang kurang memuaskan yaitu, hanya dua kelompok yang mengerjakan. Kemudian, kelompok yang mengerjakan diminta untuk menjelaskan di depan kelas.
Soal nomor 3 ini ditunjukan agar siswa dapat berpikir logis, matematis dan sistematis. Hampir sama dengan permasalahan sebelumnya, permasalahan ini menguji pemahaman siswa terhadap soal, bukan pengetahuan saja.
Soal nomor 4, pada permasalahan ini di tuntut siswa untuk mempelajari pola, memberikan dugaan, menguji duagaan tersebut. Lalu menyederhanakan permasalahan dan memperoleh solusi terbaik.
Minat dan Pandangan siswa terhadap matematika.
Pandangan siswa tehadap matematika sangat beranekan ragam. Ada siswa memandang matematiaka sebagai ilmu yang paling sulit di pahami, memandang matematika sebagai rumus, hitungan, dan sebagainya. Banyak pula tanggapan orang mengenai masalah tersebut, sistem pendidikan yang salah, guru yang tidak dapat mengajar dan lain lain. Lalu, bagaiman minat siswa terhadap matematika?. Siswa yang menyukai matematika, mengatakan menyukai matematika karena matematika membuat hati nyaman dan tenteram, matematika yang seru dan banyak sekali manfaatnya, matematika ilmu dari segala ilmu, membuat hati menjadi bersemangat, karena gurunya asyik. Siswa yang tidak dan menjawab ragu-ragu menyukai matematika mengatakan bahwa matematika itu banyak rumusnya , soal – soal matematika susah, bahkan pusing, penuh dengan angka, hitung –menghitung, rumit, susah dimengerti.
Sistem pembelajaran yang di sukai
Penulis menerapkan sistem pengajaran student center dalam kelompok. Pertanyaanya apakah sistem tersebut disenangi oleh siswa dari 40 siswa. Dari data yang penulis peroleh, 42,5% menyenangi sistem tersebut, katanya dengan kelompok lebih bisa saling bertukaran informasi dengan lebih leluasa menyampaikan pendapat. Sementara 35 % menenangi guru yang menjelaskan, katanya lebih paham dan banyak menanyakan langsung bila tidak mengerti, tetapi ada pula yang menjawab, menyenangi guru yang menjelaskan karena waktu guru menjelas kan tersebut bisa dipake untuk tidur, itu mencerminkan bahwa betapa kakunya dan membosankan sistem pengajaran guru tersebut. 7.5 % tidak menyenangi kedua-duanya, alasanya karena memang tidak menyenangi belajar matematika dan sisanya, 15 % menyenangi kedua metode tersebut, katanya yang penting belajar matematika asalkan jelas dan tidak membosankan .
Karena sistem berkelompok siswa itu lebih disenangi, penulis ingin menyampaikan peran tiap siswa dalam kelompok tersebut :
Aktif sebagai pemberi solusi : 14 → 35 %
Tidak aktif : 7 → 17,5 %
Aktif sebagai pembantu : 19 → 47,5 %
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Setelah melakukan kegiatan tersebut, penulis ingin menuliskan hasil obsevasi yang diperoleh sebagai berikut. Setelah melakukan kegiatan tersebut, sebagian besar siswa mulai menyukai belajar matematika, hal ini terlihat dari antosias mereka dalam kegiatan. sebagian siswa mulai memiliki problem solving, sebagian telah dapat menemukan pola, berpikir kritis dan sebagainya yang terlihat jelas dalam kegiatan menerangkan suatu solusi ke teman sekelas. Metode belajar yang di senangi pun beraneka ragam, ada yang memilih berkelompok, ada yang menyukai metode tradisional. Hasil tersebut kita peroleh melalui pengamatan pada saat pembelajaran dan kuisioner.
3.2 Saran
Kagiatan yang telah penulis lakukan telah mempengaruhi minat siswa. Namun, penulis memberikan saran bagaimana dapat meningkatkan kemauan seluruh siswa. Seperti yang kita ketahui, matematika merupakan nafas bagi kehidupan, untuk itu setiap orang harus mempelajari matematika. Jadi, sebagai tugas pendidik adalah membuat semua orang tetarik untuk belajar matematika.
1 Komentar
Mei 17, 2009 pukul 5:30 pm
veri..msh hobi dgn matematik rupanya….selamat bro…